Potong Gigi Sebagai Tradisi di Bali, Bagaimana Efeknya Bagi Kesehatan?

Tradisi di Bali Potong Gigi

Kiatfit.com – Apa yang kamu pikirkan jika mendengar kata Bali? Salah satunya pasti kearifan lokalnya yang masih kental akan budaya, bukan? Ya, benar, masyarakat Bali hingga kini masih sangat menjunjung tinggi tradisi yang telah dilakukan. Salah satu tradisi di Bali yang cukup unik adalah upacara potong gigi atau mengikir gigi. Penasaran apa itu potong gigi dan efeknya bagi kesehatan? Yuk, simak keunikan tradisi Bali tersebut.

4 Hal Menarik tentang Potong Gigi sebagai Tradisi di Bali

1. Yuk ketahui kapan dan siapa saja yang diwajibkan melakukan tradisi di Bali ini!

Potong Gigi Sebagai Tradisi di Bali, Bagaimana Efeknya Bagi Kesehatan?

Tradisi di Bali ini bagian dari kehidupan masyarakat Bali sejak dahulu (Foto: Instagram/@mahayana_photography)

Potong gigi juga disebut metatah. Metatah, mepandes atau mesangih ini merupakan kewajiban orang tua kepada anak yang sudah usia dewasa. Pada perempuan, upacara ini dilakukan setelah menstruasi pertama, sedangkan pada laki-laki saat suara mulai berubah. Upacara ini bertujuan untuk menyucikan diri agar bisa lebih mendekatkan diri ke Tuhan.

Sebagai salah satu bagian dari tradisi di Bali serta ajaran keagamaan umat Hindu di Bali, upacara metatah bertujuan untuk menghindari hukuman yang ada di neraka. Umat Hindu percaya, Bhatara Yamadipati akan menjatuhkan hukuman berupa menggigit pangkat bambu petung pada saat di neraka.

Upacara ini dilarang bagi wanita hamil. Masyarakat Bali percaya bahwa pada saat prosesi metatah, wanita tersebut dalam masa cuntaka atau tidak suci, sehingga perlu untuk disucikan, sedangkan janin adalah roh suci yang patut dihormati. Oleh karena itu, tradisi di Bali ini pantang dilakukan saat perempuan tengah mengandung.

2. Kira-kira berapa biaya yang dikeluarkan untuk tradisi metatah ini ya?

Potong Gigi Sebagai Tradisi di Bali, Bagaimana Efeknya Bagi Kesehatan?

Biaya yang dibutuhkan juga tidak sedikit, maka dilakukan secara berkelompok (Foto: Instagram/@gung_krish)

Upacara ini membutuhkan biaya yang cukup mahal. Banyak banten atau sesajen yang digunakan sebagai syarat sebelum dimulainya upacara. Selain itu, upacara ini juga akan dihadiri oleh keluarga besar.

Karena mahalnya biaya upacara ini, maka masyarakat Bali biasanya memilih melakukan upacara ini secara berkelompok untuk menghemat biaya. Upacara metatah biasanya dilakukan di rumah atau penerajan.

Baca juga: 5 Persiapan Meditasi, Wujudkan Kebahagiaan Sejati ala Budaya Bali

3. Karena wajib dilakukan oleh umat Hindu, bagaimana proses tradisi di Bali ini?

Potong Gigi Sebagai Tradisi di Bali, Bagaimana Efeknya Bagi Kesehatan?

Prosesi ini diharapkan mampu membersihkan diri orang yang ditatah (Foto: Instagram/@wijayalaksana)

Dalam proses upacara metatah ini sebenarnya gigi tidak dipotong, melainkan hanya dirapikan atau dikikir pada bagian yang tidak rata sebagai wujud pembersihan diri. Pada upacara ini dilakukan pengikiran 6 gigi, yakni dua gigi taring dan empat gigi tengah.

Keenam gigi pada rahang atas tersebut melambangkan 6 musuh (ripu) yang ada dalam diri manusia, seperti gigi taring yang melambangkan gigi binatang. Sedangkan gigi yang berada di rahang bawah adalah lambang sifat baik yang miliki oleh manusia.

Keenam musuh tersebut sering disebut Sad Ripu. Keenam sifat tersebut adalah Kama (hawa nafsu), Loba (rakus dan nafsu), Krodha (marah dan kejam), Maha (mabuk), Moha (bingung dan angkuh), dan Matsarya (dengki dan iri hati).

Potong Gigi Sebagai Tradisi di Bali, Bagaimana Efeknya Bagi Kesehatan?

Peserta menggunakan Tridatu sebagai bentuk pengikatan diri terhadap norma agama (Foto: Instagram/@dewiratna13_)

Pada saat upacara, orang yang metatah diminta mengenakan kain putih, kampuh kuning dan selempang samara ratih. Selain itu, mereka juga memakai “tridatu” yang memiliki simbol pengikatan diri terhadap norma agama. Tridatu adalah benang yang terdiri atas tiga warna, yakni hitam, merah, dan putih.

Prosesi dimulai dengan mengganjal mulut dengan potongan kayu dadap atau tebu dan berkumur menggunakan air perasan kunyit. Air liur yang keluar akan ditampung pada sebuah kelapa gading yang dipegang oleh sang ibu peserta. Setelah selesai proses mengikir gigi, peserta diminta mengigit daun sirih.

Setelah Metatah selesai dilakukan, peserta upacara diminta untuk merasakan 6 rasa berbeda. Rasa pahit dan asam sebagai simbol ketabahan dalam menghadapi kehidupan. Rasa pedas sebagai simbol orang yang sabar atau tidak mudah tersulut amarah. Rasa sepat sebagai simbol ketaatan terhadap norma-norma yang berlaku. Rasa asin sebagai simbol kebijaksanaan. Serta, rasa manis yang melambangkan kebahagian lahir batin.

Baca juga: Suasana Nyepi di Bali Berdampak bagi Kesehatan Tubuh dan Lingkungan

4. Siapa sangka, di balik tradisi di Bali ini, ada faktor kesehatan yang diabaikan

Potong Gigi Sebagai Tradisi di Bali, Bagaimana Efeknya Bagi Kesehatan?

Ternyata ada fakta kesehatan yang sering diabaikan di balik upacara metatah (Foto: Instagram/@widiaapt_)

Di balik sakralnya upacara metatah, ternyata tradisi di Bali ini bertabrakan dengan ilmu kedokteran gigi. Hal itu dikarenakan metatah dapat merusak lapisan gigi. Gesekan antara alat pengikir dengan gigi menyebabkan trauma pada enamel gigi (lapisan lunak pada gigi). Hilangnya email gigi dapat menyebabkan pengeroposan atau karies gigi.

Selain menipisnya enamel gigi, kuman dengan mudah menempel pada saraf yang terbuka karena rusaknya lapisan pelindung tersebut. Gigi yang dikikir pun sebenarnya mempunyai fungsi masing-masing. Gigi geraham berperan sebagai pelumat makanan. Gigi taring digunakan sebagai pemotong atau pencabik makanan sebelum kita mengunyah makanan, sedangkan gigi seri berfungsi untuk memotong atau menggigit makanan.

Fakta kesehatan tersebut sekiranya dapat menjadi gambaran tersendiri bagi umat Hindu yang ingin melaksanakan tradisi metatah atau upacara potong gigi. Mempertimbangkan dengan bijak terlebih dahulu setidaknya menjadi upaya yang bisa ditempuh. Meski demikian, hal ini terlalu dilematis bagi sebagian orang. Terutama yang ingin tetap melestarikan tradisi di Bali sebagai warisan nenek moyang dan leluhur, sekaligus memperhatikan faktor kesehatan diri.

0 Comments

    Leave a Comment

    Login

    Welcome! Login in to your account

    Remember me Lost your password?

    Lost Password